Bismillahirrahmanirrahim.
Ucapnya lirih sembari mendekatiku. Dokter Obsgyn yang penuh keibuan itu mulai
melakukan treatment kepadaku dengan menggerakkan transducer ke
beberapa bagian perutku untuk mendapatkan
hasil pencitraan secara akurat. Hemm..ini kepala, ini kaki..baik
Alhamdulillah, ukuran lingkar kepalanya sudah berkembang, perkiraan berat
badannya juga oke. Katanya penuh keyakinan. Ini, ini ibu, posisinya masih belum
mau berubah meski bagian kepala sudah beralih posisi agak miring ke kanan.
Mudah-mudahan saat HPL sudah berada posisi normal untuk lahir. Ibu, jangan lupa
setiap selesai salat, bersujud atau nungging lebih lama ya. Kata dokter
menyarankanku.
Alhamdulillah,
kataku mendengar hasil pemeriksaan hari itu sembari bangun dari posisi awalku. Akupun
duduk kembali di kursi konsultasi. Dok, jika nanti posisinya tidak berubah
berarti harus jalani operasi Caesar lagi nggih. Iya, Selesio Sesarea harus dijalankan.
Katanya dengan menggunakan nama lain
dari operasi Caesar. Mudah-mudahan lahir normal, Dok. Anak pertama dulu
sudah lewat operasi, kalau yang kedua harus operasi lagi, bagaimana Dok? Insya
Alloh, tidak apa-apa ibu, yang penting yakin kondisi ibu baik-baik saja. Ibu
tidak perlu terlalu banyak berpikir tentang ini itu ya. Nggih Dok. Kataku
seolah tak ada kegundahan dalam benakku.
Memangnya
periksanya itu hari ke berapa?
Bicara urusan
periksa. Aku tuh rajin, tiap bulan konsultasi dengan Obsgyn untuk mengetahui
perkembangan janinku. Itu aku sudah lakukan sejak anakku yang pertama, Alhamdulillah
saat awalnya sepertinya lahir partus normal, istilah persalinan
normal tanpa bantuan obat-obatan dan obat medis yang lain, tetapi akhirnya aku
lewati juga dengan operasi.
Oo, iya saat
itu aku periksa di hari yang ke berapa ya..., he eh hari itu tepat hari ke
berapa ya, yang pasti minggu ke-37. Dua hari setelah itu, karena ada sesuatu
yang berasa ganjil; tak enak dan tak nyaman, aku konsul lagi dengan dokter
Obsgyn. Tahu kah?
Hari itu juga aku harus diminta operasi Caesar. Alhamdulillah setiap kali
periksa, aku selalu ditemani suami tercintaku. Bismillah saat kedua harus ku
jalani operasi tersebut, setelah 3 tahun sebelumnya aku juga jalani hal serupa
dengan segala sensasi yang mungkin juga dialami oleh ibu-ibu lain seperti aku.
He..he, masih
juga ada perasaan nervous, afraid dan
tak nyaman ya, meski sudah pernah operasi Caesar?
Ah kamu! Mudah-mudahan
tak pernah alami itu. Semoga besuk kalau sudah saatnya, Alloh anugerahkan
kepastian untukmu mendapatkan keturunan dengan persalinan normal. Menurutku
jika dibolehkan memilih, aku takkan pilih dengan operasi, nyaris trauma. Coba
bayangkan! Sebelum operasi, Dokter harus bisa pastikan bahwa kondisiku baik.
aku juga harus menjalani Cek tekanan darah, gula darah, dan bahkan jantung. Masya Alloh, pokoknya
jika tidak karena suratan takdir, tak
mau aku jalani ini. Belum lagi bekas sayatan yang nampak jelas -maaf-
melintang di perutku. Kamu juga kudu ngerti, jika dibandingkan masalah
sakitnya, yang pasti partus normal lebih nyaman dan lebih bisa
menyadarkan arti perjuangan dalam jihad seorang ibu. Singkat cerita,
Alhamdulillah jagoanku yang kedua lahir. Catat ini! Sebelum pulang, Dokter
memberi saran dan anjuran medis seperti biasa. Satu hal yang membuatku agak
gusar adalah sarannya kepadaku untuk konsultasi dengan Dokter Jantung setelah 2
atau 3 bulan ke depan.
Lalu setelah 3
bulan itu?
Terus terang
aku abai dengan saran Dokter saat itu. Aku merasa enjoy aja, tak ada keluhan
selama itu. Ngga tahu ya, saat itu masih beranggapan biasa, apa yang disarankan
Dokter saat itu, aku anggap seperti angin lalu.
Aku baru
membenarkan Dokter Obsgynku ketika 2 tahun kemudian ketika aku melakukan cek
kesehatan untuk pemberkasan CPNS. Astaghfirullah, kataku. Hasil cek kesehatanku
menunjukkan ada yang perlu diperhatikan secara lebih dengan jantungku. Maaf
nggih, kapan-kapan ibu perlu menindaklanjuti hasil ini dengan konsultasi
Dokter Jantung. Kata Dokter yang memeriksaku.
Hemm...Qadarullah
aku juga lupa waktu pastinya, tahu-tahu aku sakit luar biasa. Dibawalah aku
oleh suamiku ke Rumah Sakit yang bagiku sudah seperti rumahku sendiri. Setelah
berada di UGD beberapa saat, dokter jaga menyarankan untuk opname. Sehari
setelah itu, aku di-vonis Hemoroid. Tahu
ngga Hemoroid? Iya..iya sakit Wasir, Ambeien. Ambeien. Wallahulmusta‘aan,
aku harus bertemu dengan Dokter di ruang
operasi lagi ini. Kataku dalam hati
dengan tetap berprasangka baik kepada Alloh, Sang Pemilik Hidup.
Innalillah,
kamu dibedah lagi?
Alhamdulillah,
aku selalu didampingi suami yang selalu bisikkan satu ayat yang meyakinkan. Dan apabila aku sakit, Dia-lah yang
menyembuhkannya (QS. Asy-syu’aro 80)
He eh! Lha piye
maneh? Kenyataannya harus begitu, jalani
aja Bismillah. Sebelum operasi bedah kali ini, beberapa treatment sudah
aku jalani. Semua sudah Oke, Operasi siap dilakukan. Begitu kata Dokter
kepadaku. Bismillah. Meski dalam benakku ada ketakutan luar biasa karena kata
orang; operasi Hemoroid itu sakit banget. Entah benar atau tidak, yang
pasti akupun terprovokasi oleh ucapan itu. Alhamdulillah 4 hari setelah itu, akupun
diijinkan pulang. Sehat, sehat dan sehatkan Ya Alloh.
Alhamdulillah,
jadi semakin yakin dengan ayat-ayat al Qur’an tentang kesembuhan atas penyakit.
Katamu sambil berangguk-angguk.
Iya benar! Tak
boleh sebersitpun dalam benak kita untuk tidak membenarkan dan mengimaninya.
Aku masih ingin cerita lagi tentang penyakitku. Semoga kamu masih mau
mendengarkannya.
Mau..mau..memang ada apa lagi?
Nampaknya Alloh Ta’ala teramat sayang kepadaku, hingga aku masih lagi
diuji dengan penyakit yang menghampiriku. Setahun setelah itu, tiba-tiba di
suatu sore, perutku sakit teramat sangat. Perutku bagian bawah, sakit tak
sekali.
Pagi harinya, aku ke bagian UGD Rumah Sakit yang sudah berasa menjadi
rumah keduaku. Setelah di USG, Dokter menunjukkan hasilnya bahwa aku terkena
Appendicitis; sakit Usus Buntu. Tak perlu banyak tanya lagi, aku akhirnya
setuju untuk operasi lagi.
Sebelum masuk
ruang operasi, thethek bengek cek pra operasi dilakukan. Mohon maaf
mohon nggih, operasi tidak jadi dilakukan hari ini karena harus ada tindakan
dari Dokter Jantung dulu. Kata Dokter Bedah kepadaku dan suamiku. Jadi, benar
ya kata Dokter Obsgynku itu. Kataku membenarkan sarannya kepadaku untuk konsul
Dokter jantung. Akhirnya, dokter bilang aku mengalami Aritimia. Gampangnya,
Jantungku memiliki detak yang tak stabil.
Aritimia....bukan
Aritmatika ya..he..he? Katamu berseloroh.
Gaya guyonanmu
tak berubah sejak dulu. Selalu saja ada celah suatu pembicaraan menjadi jab-jab
ringan banyolanmu..
Terus gimana
dengan bedah Appendicitis-mu?
Bagiku
operasiku kali ini ada lagi hikmah yang selalu aku yakini bahwa aku dengan
segala kelemahan dan ketidaktahuanku di hadapan-Nya. Satu kali bedah untuk dua
tindakan atas penyakit di ragaku. Begini, saat dokter membedah Usus buntuku
ternyata Dokter juga menemukan adanya kelainan pada organ empeduku.
Dokter bedah
menceritakan kepada suamiku dan sekaligus meminta persetujuan untuk tindakan
atas penyakit Choletithiasis; sakit batu empedu. Bagiku kasih sayang
Alloh Ta’ala kepadaku, ternyata, kian sering menghampiriku.
“Tidaklah
seorang muslim yang tertimpa gangguan berupa penyakit atau semacamnya, kecuali
Allah akan menggugurkan bersama dengannya dosa-dosanya, sebagaimana pohon yang
menggugurkan dedaunannya.” (Hadits Riwayat Bukhori & Muslim)
Sabda
Nabi Shallallahu’alaihi wasallam ini juga jadi perantara perdamaianku dengan
penyakit yang kuderita. Sebenarnya bukannya aku merasa paling sok selalu baik
dalam agama, tetapi itulah kenyataannya aku harus berdamai dengan penyakit yang
di-ganjar-kan kepadaku.
Setelah operasi itu. 3 butir batu sebesar –maaf- srinthil;
kotoran kambing diperlihatkan kepadaku. Demikian juga entah apa namanya,
sepotong daging kaya usus yang juga diperlihatkan kepadaku untuk kemudian
diminta Rumah Sakit lagi. Mungkin itulah potongan Appendix Vermiformis; usus
buntu.
Sejauh ini,
bolehkah aku bertanya kepadamu? Operasi manakah yang kamu anggap paling
traumatis?
Masya Alloh! Pertanyaanmu bikin aku merasa seolah ditanyai presenter kritis
stasiun televisi. Oke, ngga
apa-apa. Seingatku bedah Appendicitis dan Choletithiasisini yang
paling sakit. Beberapa saat setelah operasi, aku merasakan sakit yang
tidak tertahankan. Bahkan dokter anestesi berulang kali menyuntikkan obat anti
nyeri, tetapi hasilnya nihil. Wal iyyadzubillah! Semoga Alloh kuatkan aku.
Do’aku sembari menahan sakit yang kian tak tertahankan.
Setelah kurang
lebih 5-6 jam aku kesakitan yang tak tertahankan, akhirnya seorang perawat
memberikan tindakan dengan menempelkan
semacam kertas koyo-berbentuk lingkaran di dadaku. Mungkin obat anti nyeri yang
lebih tinggi dosisnya karena tidak lama setelah itu, rasa nyeriku berangsur
hilang. Alhamdulillah Ya Alloh, tamba teka larane lunga! Ucapku penuh
syukur, pun demikian keluargaku.
Alhamdulillah, semoga ini menjadi sakit dan operasi terakhirmu.
Aamiin.
Jazaakillah khoiron, pren! Meskipun begitu, kamu tahu? Setelah operasi
itulah aku secara rutin harus konsul Cardiologist, dokter jantung.
Dokter muda yang bagiku juga cukup nyaman dan komunikatif denganku sebagai
pasien tetapnya. Setiap kali konsul dengan suami tercintaku, beliau mesti
langsung member sapa khasnya, renyah dan bersahabat seperti bicara dengan teman
mainnya. Piye Bu, isih deg-degan? Monggo sini, coba saya cek dulu. Lho
kok masih juga belum stabil detaknya. Nggih! Ingat-ingat, Bu, olahraga jangan
lupa! Jika memungkinkan, bersepeda, Bu. Sarannya setelah periksa saat itu.
Hingga saat inipun, setiap bulan aku konsul dengannya untuk memastikan aku
dalam kondisi baik.
Harus rutinkah
periksa jantungmu?
Betul! Baik
pada kondisi aku merasa fit atau tidak, akui harus rutin konsul. Pernah satu
ketika aku sengaja tidak konsul, kemudian pada bulan berikutnya saat periksa,
apa katanya? Jadi ibu bulan lalu tidak control ya? Bagus..bagus..bagus. Katanya
nglulu aku, pertanda tak berkenan.
Pokoknya sebisa mungkin harus priksa nggih, Bu! Nggih, Insya Alloh Dok!
Jawabku meyakinkannya.
Dok, saya ini
sering pusing atau apa ya, yang pasti
lebih sering sakit kepala! Berarti sejak awal itu belum ada perubahan
pusingnya? Belum, Dok! Jawabku tegas. Begini aja Bu, ini aya beri rujukan untuk
scan. Setelah itu, Ibu konsul dengan Neurologist, dokter syaraf untuk memastikan penyebab
pusingnya itu apa? Sembari menuliskan rujukan, beliau member instruksi lanjutan
utnuk pengobatanku.
Tindakan dengan
CT Scan?
Iyess! CT scan adalah mesin pemindai
berbentuk lingkaran yang besar, cukup untuk dimasuki orang dewasa dengan posisi
berbaring. Alat ini dapat digunakan untuk mendiagnosis dan memonitor beragam
kondisi kesehatan. Setelah di-treatment dengan alat ini, Dokter syaraf
merujukku kepada seorang Otolaryngologis, Dokter THT.
Lalu?
Ibu terkena Rinitis; ada gangguan di area hidung ibu,
ada semacam pembengkakan atau peradangan yang mengganggu jalan nafas. Ibu
sering flu? bersin-bersin? Bindeng suaranya nggih? Tanya Dokter itu
beruntun. Nggih, Dok! Jawabku singkat.
Iya, ini harus dibedah, Bu! Ibu siap kapan monggo buat janji
dengan saya. Ini saya siapkan surat rujukannya.
Operasi lagi?
Iya! Operasi lagi. Kata Dokter ini sebenarnya bedah untuk
memotong radang yang mengganggu pernafasan dan paling lama 3 hari sudah boleh
pulang. Sepekan setelah itu, aku datang
ke Rumah sakit bersama suamiku. Tapi untuk operasi kali ini, aku gagal
mendapatkan tindakan karena pada saat
menjelang tindakan, Internist, dokter ahli penyakit dalam menemukan
bahwa gula darahku cukup tinggi 320. Meski aku sudah disuntik Insulin guna menurunkan gula dalam darah hingga normal,
ternyata hasilnya nihil. Gula darahku tetap saja tinggi 253. Kamu tahu? Setelah menginap di Rumah Sakit
selama 2 hari, aku diperbolehkan pulang dengan alasan biar gula dalam darahku
normal terlebih dahulu.
Jadi kamu juga divonis Diabetus Melitus kah?
Begitulah kira-kira karena Gula dalam darahku di atas ambang
batas normal. Kalau tidak salah dengar, iya
antara 70 hingga 130 itu ynag normal. Lha aku, 320. Sejak saat itu, aku
harus diet seimbang dan berolahraga teratur
sesuai saran dokter dan ahli
gizi. Sempat juga aku bingung, stress
dan sering gundah, tetapi sekali lagi suamiku selalu menguatkan.
“Sesungguhnya
besarnya pahala itu berbanding lurus dengan besarnya ujian. Dan sesungguhnya
jika Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka. Siapa yang ridha,
baginya ridha(Nya), namun siapa yang murka, maka baginya kemurkaan(Nya).”
Hadits Nabi yang selalu jadi pengingat dan penguatku.
Bismillah, Wallohulmusta’aan. Semoga Aku selalu dibimbing untuk berprasangka
baik kepada-Nya.
Terus sekarang bagaimana?
Alhamdulillah. Aku sekarang rutin secara bergantian konsul
dengan Cardologist dan Internist. Hingga saat ini, aku mendapat
ambang batas gula dalam darah yang cukup menyenangkan, normal setelah melalui
upaya diet seimbang dan berolahraga. Artinya
sekarang ini aku berupaya untuk makan sesuai dengan anjuran dokter. Hemmm...aku
harus berupaya keras hindari dan tidak lagi bersentuhan dengan makanan dan
minuman yang mungkin masih banyak orang lain bisa nikmati. Ini semua kulakukan
demi sehat dan sehat.
Oke pren! Mudah-mudahan sehat selalu.
He eh! Matur nuwun. Nampaknya percakapan kita belum akan
berakhir.
Kok begitu?
Minggu lalu aku lakukan MRI. Iya Magnetic resonance
imaging (MRI) adalah jenis tindakan medis yang menggunakan medan magnet dan gelombang
radio untuk menampilkan gambar organ serta jaringan di dalam tubuh. Kali ini
aku bermasalah dengan lutut kananku. menurut hasil MRI yang sudah dibaca oleh
dokter, aku didagnosa mengalami Tendinitis; pembengkakan tendon. Kata dokter.
Kelainan pada tendonku ini, berasa saat tidak nyaman
untuk berjalan. Jangankan
untuk berjalan, kadang-kadang malah nyerinya tidak hilang-hilang.
Operasi lagi...operasi lagi ya? Katamu malah
seolah meledekku.
Aneh kamu itu, teman lagi sakit malah diledekin!
Lhoh aku ngga ngledekin kamu, tapi nanya itu!
Operasi lagi ya?
Iiiya,iyaaa... Ah kamu selalu tak mau disalahkan! Kali
ini aku diberi treatment tanpa operasi. Sudahlah, aku mau ceritakan lagi
tentang Tendinitisku ini.
Ibu, ingin
disuntik atau diterapi? Tanya Dokter kepadaku sembari membaca hasil pencitraan
MRI di depanku. Diterapi aja, Dok! Pintaku dengan penuh ketegasan karena aku
benar-benar trauma dengan suntikan. Oke, Bu! seminggu lagi silahkan konsultasi
dengan Dokter Bedah Ortopedi. Selama
sepekan, aku juga merasa kerepotan dengan rasa nyeri lututku, tapi aku berusaha
menahan saat aku harus beraktifitas baik di kantor maupun di rumah. Kini aku
jalani terapi pada lututku secara rutin selama 4 kali dalam sebulan. Untuk
menopang nyamannya lututku, aku juga memakai semacam sabuk atau korset.
Jadi
aku harus pandai-pandai bersyukur dengan
nikmat sehat yang diberikan Alloh ta’ala hingga saat ini. Paling tidak, aku
telah mengalami masa-masa dimana aku harus berjuang dengan keras untuk merawat
dan menjaga tubuh ini dari segala ketidaknyaman. Coba bayangkan, aku hidup
dengan penopang obat-obatan untuk kesehatan jantung, menjaga normal ambang
batas gula dalam darah dan juga menjaga lututku bisa menopang tubuhku untuk
beraktifitas baik untuk bermu’amalah maupun beribadah.
Jadi...? Katamu dengan berlinang air mata untuk
mengakhiri rasa penasaranmu kepadaku.
Aku telah belajar banyak dari ragaku, kita ini hanya
dititipi oleh Alloh ta’ala, kita hanya dipinjami oleh-Nya. Namanya dititipi
atau dipinjami, ya saat sang pemilik berkehendak melakukan apapun, ya terserah
saja. Apa kita sebagai peminjam atau sebagai yang dititipi, akan menolak jika
sang pemilik menginginkannya? Laa Khaula wala quwwata illa billah. Terima
kasih, teman untuk waktumu untukku.
