Rabu, 21 Januari 2026

RAGA INI BUKAN MILIKKU


 

Bismillahirrahmanirrahim. Ucapnya lirih sembari mendekatiku. Dokter Obsgyn yang penuh keibuan itu mulai melakukan treatment kepadaku dengan menggerakkan transducer ke beberapa bagian perutku untuk mendapatkan  hasil pencitraan secara akurat. Hemm..ini kepala, ini kaki..baik Alhamdulillah, ukuran lingkar kepalanya sudah berkembang, perkiraan berat badannya juga oke. Katanya penuh keyakinan. Ini, ini ibu, posisinya masih belum mau berubah meski bagian kepala sudah beralih posisi agak miring ke kanan. Mudah-mudahan saat HPL sudah berada posisi normal untuk lahir. Ibu, jangan lupa setiap selesai salat, bersujud atau nungging lebih lama ya. Kata dokter menyarankanku.

Alhamdulillah, kataku mendengar hasil pemeriksaan hari itu sembari bangun dari posisi awalku. Akupun duduk kembali di kursi konsultasi. Dok, jika nanti posisinya tidak berubah berarti harus jalani operasi Caesar lagi nggih. Iya, Selesio Sesarea harus dijalankan. Katanya dengan menggunakan nama lain  dari operasi Caesar. Mudah-mudahan lahir normal, Dok. Anak pertama dulu sudah lewat operasi, kalau yang kedua harus operasi lagi, bagaimana Dok? Insya Alloh, tidak apa-apa ibu, yang penting yakin kondisi ibu baik-baik saja. Ibu tidak perlu terlalu banyak berpikir tentang ini itu ya. Nggih Dok. Kataku seolah tak ada kegundahan dalam benakku.  

Memangnya periksanya itu hari ke berapa?

Bicara urusan periksa. Aku tuh rajin, tiap bulan konsultasi dengan Obsgyn untuk mengetahui perkembangan janinku. Itu aku sudah lakukan sejak anakku yang pertama, Alhamdulillah saat  awalnya sepertinya  lahir partus normal, istilah persalinan normal tanpa bantuan obat-obatan dan obat medis yang lain, tetapi akhirnya aku lewati juga dengan operasi.

Oo, iya saat itu aku periksa di hari yang ke berapa ya..., he eh hari itu tepat hari ke berapa ya, yang pasti minggu ke-37. Dua hari setelah itu, karena ada sesuatu yang berasa ganjil; tak enak dan tak nyaman, aku konsul lagi dengan dokter Obsgyn. Tahu kah? Hari itu juga aku harus diminta operasi Caesar. Alhamdulillah setiap kali periksa, aku selalu ditemani suami tercintaku. Bismillah saat kedua harus ku jalani operasi tersebut, setelah 3 tahun sebelumnya aku juga jalani hal serupa dengan segala sensasi yang mungkin juga dialami oleh ibu-ibu lain seperti aku.

He..he, masih juga ada perasaan nervous, afraid dan tak nyaman ya, meski sudah pernah operasi Caesar?

Ah kamu! Mudah-mudahan tak pernah alami itu. Semoga besuk kalau sudah saatnya, Alloh anugerahkan kepastian untukmu mendapatkan keturunan dengan persalinan normal. Menurutku jika dibolehkan memilih, aku takkan pilih dengan operasi, nyaris trauma. Coba bayangkan! Sebelum operasi, Dokter harus bisa pastikan bahwa kondisiku baik. aku juga harus menjalani Cek tekanan darah, gula darah,  dan bahkan jantung. Masya Alloh, pokoknya jika tidak karena  suratan takdir, tak mau aku jalani ini. Belum lagi bekas sayatan yang nampak jelas -maaf- melintang di perutku. Kamu juga kudu ngerti, jika dibandingkan masalah sakitnya, yang pasti partus normal lebih nyaman dan lebih bisa menyadarkan arti perjuangan dalam jihad seorang ibu. Singkat cerita, Alhamdulillah jagoanku yang kedua lahir. Catat ini! Sebelum pulang, Dokter memberi saran dan anjuran medis seperti biasa. Satu hal yang membuatku agak gusar adalah sarannya kepadaku untuk konsultasi dengan Dokter Jantung setelah 2 atau 3 bulan ke depan.

Lalu setelah 3 bulan itu?

Terus terang aku abai dengan saran Dokter saat itu. Aku merasa enjoy aja, tak ada keluhan selama itu. Ngga tahu ya, saat itu masih beranggapan biasa, apa yang disarankan Dokter saat itu, aku anggap seperti angin lalu.

Aku baru membenarkan Dokter Obsgynku ketika 2 tahun kemudian ketika aku melakukan cek kesehatan untuk pemberkasan CPNS. Astaghfirullah, kataku. Hasil cek kesehatanku menunjukkan ada yang perlu diperhatikan secara lebih dengan jantungku. Maaf nggih, kapan-kapan ibu perlu menindaklanjuti hasil ini dengan konsultasi Dokter Jantung. Kata Dokter yang memeriksaku.

Hemm...Qadarullah aku juga lupa waktu pastinya, tahu-tahu aku sakit luar biasa. Dibawalah aku oleh suamiku ke Rumah Sakit yang bagiku sudah seperti rumahku sendiri. Setelah berada di UGD beberapa saat, dokter jaga menyarankan untuk opname. Sehari setelah itu, aku di-vonis  Hemoroid. Tahu ngga Hemoroid? Iya..iya sakit Wasir, Ambeien. Ambeien. Wallahulmusta‘aan, aku harus bertemu dengan Dokter di  ruang operasi  lagi ini. Kataku dalam hati dengan tetap berprasangka baik kepada Alloh, Sang Pemilik Hidup.

 

Innalillah, kamu dibedah lagi?

Alhamdulillah, aku selalu didampingi suami yang selalu bisikkan satu ayat yang meyakinkan.  Dan apabila aku sakit, Dia-lah yang menyembuhkannya (QS. Asy-syu’aro 80)

He eh! Lha piye maneh?  Kenyataannya harus begitu, jalani aja Bismillah. Sebelum operasi bedah kali ini, beberapa treatment sudah aku jalani. Semua sudah Oke, Operasi siap dilakukan. Begitu kata Dokter kepadaku. Bismillah. Meski dalam benakku ada ketakutan luar biasa karena kata orang; operasi Hemoroid itu sakit banget. Entah benar atau tidak, yang pasti akupun terprovokasi oleh ucapan itu.  Alhamdulillah 4 hari setelah itu, akupun diijinkan pulang. Sehat, sehat dan sehatkan Ya Alloh.

Alhamdulillah, jadi semakin yakin dengan  ayat-ayat  al Qur’an tentang kesembuhan atas penyakit. Katamu sambil berangguk-angguk.

Iya benar! Tak boleh sebersitpun dalam benak kita untuk tidak membenarkan dan mengimaninya. Aku masih ingin cerita lagi tentang penyakitku. Semoga kamu masih mau mendengarkannya.

Mau..mau..memang ada apa lagi?

Nampaknya Alloh Ta’ala teramat sayang kepadaku, hingga aku masih lagi diuji dengan penyakit yang menghampiriku. Setahun setelah itu, tiba-tiba di suatu sore, perutku sakit teramat sangat. Perutku bagian bawah, sakit tak sekali.

Pagi harinya, aku ke bagian UGD Rumah Sakit yang sudah berasa menjadi rumah keduaku. Setelah di USG, Dokter menunjukkan hasilnya bahwa aku terkena Appendicitis; sakit Usus Buntu. Tak perlu banyak tanya lagi, aku akhirnya setuju untuk operasi lagi.

Sebelum masuk ruang operasi, thethek bengek cek pra operasi dilakukan. Mohon maaf mohon nggih, operasi tidak jadi dilakukan hari ini karena harus ada tindakan dari Dokter Jantung dulu. Kata Dokter Bedah kepadaku dan suamiku. Jadi, benar ya kata Dokter Obsgynku itu. Kataku membenarkan sarannya kepadaku untuk konsul Dokter jantung. Akhirnya, dokter bilang aku mengalami Aritimia. Gampangnya, Jantungku memiliki detak yang tak stabil.

Aritimia....bukan Aritmatika ya..he..he? Katamu berseloroh.

Gaya guyonanmu tak berubah sejak dulu. Selalu saja ada celah suatu pembicaraan menjadi jab-jab ringan banyolanmu..

Terus gimana dengan bedah Appendicitis-mu?

Bagiku operasiku kali ini ada lagi hikmah yang selalu aku yakini bahwa aku dengan segala kelemahan dan ketidaktahuanku di hadapan-Nya. Satu kali bedah untuk dua tindakan atas penyakit di ragaku. Begini, saat dokter membedah Usus buntuku ternyata Dokter juga menemukan adanya kelainan pada organ empeduku.

Dokter bedah menceritakan kepada suamiku dan sekaligus meminta persetujuan untuk tindakan atas penyakit Choletithiasis; sakit batu empedu. Bagiku kasih sayang Alloh Ta’ala kepadaku, ternyata, kian sering menghampiriku.

Tidaklah seorang muslim yang tertimpa gangguan berupa penyakit atau semacamnya, kecuali Allah akan menggugurkan bersama dengannya dosa-dosanya, sebagaimana pohon yang menggugurkan dedaunannya.” (Hadits Riwayat Bukhori & Muslim)

Sabda Nabi Shallallahu’alaihi wasallam ini juga jadi perantara perdamaianku dengan penyakit yang kuderita. Sebenarnya bukannya aku merasa paling sok selalu baik dalam agama, tetapi itulah kenyataannya aku harus berdamai dengan penyakit yang di-ganjar-kan kepadaku.

 Setelah operasi itu.  3 butir batu sebesar –maaf- srinthil; kotoran kambing diperlihatkan kepadaku. Demikian juga entah apa namanya, sepotong daging kaya usus yang juga diperlihatkan kepadaku untuk kemudian diminta Rumah Sakit lagi. Mungkin itulah potongan Appendix Vermiformis; usus buntu.

Sejauh ini, bolehkah aku bertanya kepadamu? Operasi manakah yang kamu anggap paling traumatis?

Masya Alloh! Pertanyaanmu bikin aku merasa seolah ditanyai presenter kritis stasiun televisi. Oke, ngga apa-apa. Seingatku bedah Appendicitis dan Choletithiasisini yang paling sakit. Beberapa saat setelah operasi, aku merasakan sakit yang tidak tertahankan. Bahkan dokter anestesi berulang kali menyuntikkan obat anti nyeri, tetapi hasilnya nihil. Wal iyyadzubillah! Semoga Alloh kuatkan aku. Do’aku sembari menahan sakit yang kian tak tertahankan.

Setelah kurang lebih 5-6 jam aku kesakitan yang tak tertahankan, akhirnya seorang perawat memberikan tindakan dengan  menempelkan semacam kertas koyo-berbentuk lingkaran di dadaku. Mungkin obat anti nyeri yang lebih tinggi dosisnya karena tidak lama setelah itu, rasa nyeriku berangsur hilang. Alhamdulillah Ya Alloh, tamba teka larane lunga! Ucapku penuh syukur, pun demikian keluargaku.

Alhamdulillah, semoga ini menjadi sakit dan operasi terakhirmu.

Aamiin. Jazaakillah khoiron,  pren!  Meskipun begitu, kamu tahu? Setelah operasi itulah aku secara rutin harus konsul Cardiologist, dokter jantung. Dokter muda yang bagiku juga cukup nyaman dan komunikatif denganku sebagai pasien tetapnya. Setiap kali konsul dengan suami tercintaku, beliau mesti langsung member sapa khasnya, renyah dan bersahabat seperti bicara dengan teman mainnya. Piye Bu, isih deg-degan? Monggo sini, coba saya cek dulu. Lho kok masih juga belum stabil detaknya. Nggih! Ingat-ingat, Bu, olahraga jangan lupa! Jika memungkinkan, bersepeda, Bu. Sarannya setelah periksa saat itu. Hingga saat inipun, setiap bulan aku konsul dengannya untuk memastikan aku dalam kondisi baik.

Harus rutinkah periksa jantungmu?

Betul! Baik pada kondisi aku merasa fit atau tidak, akui harus rutin konsul. Pernah satu ketika aku sengaja tidak konsul, kemudian pada bulan berikutnya saat periksa, apa katanya? Jadi ibu bulan lalu tidak control ya? Bagus..bagus..bagus. Katanya nglulu aku, pertanda tak berkenan.  Pokoknya sebisa mungkin harus priksa nggih, Bu! Nggih, Insya Alloh Dok! Jawabku meyakinkannya.

Dok, saya ini sering pusing  atau apa ya, yang pasti lebih sering sakit kepala! Berarti sejak awal itu belum ada perubahan pusingnya? Belum, Dok! Jawabku tegas. Begini aja Bu, ini aya beri rujukan untuk scan. Setelah itu, Ibu konsul dengan Neurologist,  dokter syaraf untuk memastikan penyebab pusingnya itu apa? Sembari menuliskan rujukan, beliau member instruksi lanjutan utnuk pengobatanku.

Tindakan dengan CT Scan?

Iyess! CT scan adalah mesin pemindai berbentuk lingkaran yang besar, cukup untuk dimasuki orang dewasa dengan posisi berbaring. Alat ini dapat digunakan untuk mendiagnosis dan memonitor beragam kondisi kesehatan. Setelah di-treatment dengan alat ini, Dokter syaraf merujukku kepada seorang Otolaryngologis, Dokter THT.

Lalu?

Ibu terkena Rinitis; ada gangguan di area hidung ibu, ada semacam pembengkakan atau peradangan yang mengganggu jalan nafas. Ibu sering flu? bersin-bersin? Bindeng suaranya nggih? Tanya Dokter itu beruntun. Nggih, Dok! Jawabku singkat.

Iya, ini harus dibedah, Bu! Ibu siap kapan monggo buat janji dengan saya. Ini saya siapkan surat rujukannya.

Operasi lagi?

Iya! Operasi lagi. Kata Dokter ini sebenarnya bedah untuk memotong radang yang mengganggu pernafasan dan paling lama 3 hari sudah boleh pulang.  Sepekan setelah itu, aku datang ke Rumah sakit bersama suamiku. Tapi untuk operasi kali ini, aku gagal mendapatkan tindakan karena  pada saat menjelang tindakan, Internist, dokter ahli penyakit dalam menemukan bahwa gula darahku cukup tinggi 320. Meski aku sudah disuntik Insulin guna  menurunkan gula dalam darah hingga normal, ternyata hasilnya nihil. Gula darahku tetap saja tinggi 253.  Kamu tahu? Setelah menginap di Rumah Sakit selama 2 hari, aku diperbolehkan pulang dengan alasan biar gula dalam darahku normal terlebih dahulu.

Jadi kamu juga divonis Diabetus Melitus kah?

Begitulah kira-kira karena Gula dalam darahku di atas ambang batas normal. Kalau tidak salah dengar, iya  antara 70 hingga 130 itu ynag normal. Lha aku, 320. Sejak saat itu, aku harus diet seimbang dan berolahraga teratur  sesuai saran dokter dan  ahli gizi.  Sempat juga aku bingung, stress dan sering gundah, tetapi sekali lagi suamiku selalu menguatkan.

“Sesungguhnya besarnya pahala itu berbanding lurus dengan besarnya ujian. Dan sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka. Siapa yang ridha, baginya ridha(Nya), namun siapa yang murka, maka baginya kemurkaan(Nya).

Hadits Nabi yang selalu jadi pengingat dan penguatku. Bismillah, Wallohulmusta’aan. Semoga Aku selalu dibimbing untuk berprasangka baik kepada-Nya.

Terus sekarang bagaimana?

Alhamdulillah. Aku sekarang rutin secara bergantian konsul dengan Cardologist dan Internist. Hingga saat ini, aku mendapat ambang batas gula dalam darah yang cukup menyenangkan, normal setelah melalui upaya diet seimbang dan berolahraga.  Artinya sekarang ini aku berupaya untuk makan sesuai dengan anjuran dokter. Hemmm...aku harus berupaya keras hindari dan tidak lagi bersentuhan dengan makanan dan minuman yang mungkin masih banyak orang lain bisa nikmati. Ini semua kulakukan demi sehat dan sehat.

Oke pren! Mudah-mudahan sehat selalu.

He eh! Matur nuwun. Nampaknya percakapan kita belum akan berakhir.

Kok begitu?

Minggu lalu aku lakukan MRI. Iya  Magnetic resonance imaging (MRI) adalah jenis tindakan medis yang menggunakan medan magnet dan gelombang radio untuk menampilkan gambar organ serta jaringan di dalam tubuh. Kali ini aku bermasalah dengan lutut kananku. menurut hasil MRI yang sudah dibaca oleh dokter, aku didagnosa mengalami Tendinitis; pembengkakan tendon. Kata dokter.

Kelainan pada tendonku ini, berasa saat tidak nyaman untuk berjalan. Jangankan untuk berjalan, kadang-kadang malah nyerinya tidak hilang-hilang.

Operasi lagi...operasi lagi ya? Katamu malah seolah meledekku.

Aneh kamu itu, teman lagi sakit malah diledekin!

Lhoh aku ngga ngledekin kamu, tapi nanya itu! Operasi lagi ya?

Iiiya,iyaaa... Ah kamu selalu tak mau disalahkan! Kali ini aku diberi treatment tanpa operasi. Sudahlah, aku mau ceritakan lagi tentang Tendinitisku ini.

  Ibu, ingin disuntik atau diterapi? Tanya Dokter kepadaku sembari membaca hasil pencitraan MRI di depanku. Diterapi aja, Dok! Pintaku dengan penuh ketegasan karena aku benar-benar trauma dengan suntikan. Oke, Bu! seminggu lagi silahkan konsultasi dengan Dokter Bedah Ortopedi.  Selama sepekan, aku juga merasa kerepotan dengan rasa nyeri lututku, tapi aku berusaha menahan saat aku harus beraktifitas baik di kantor maupun di rumah. Kini aku jalani terapi pada lututku secara rutin selama 4 kali dalam sebulan. Untuk menopang nyamannya lututku, aku juga memakai semacam sabuk atau korset.

Jadi aku harus  pandai-pandai bersyukur dengan nikmat sehat yang diberikan Alloh ta’ala hingga saat ini. Paling tidak, aku telah mengalami masa-masa dimana aku harus berjuang dengan keras untuk merawat dan menjaga tubuh ini dari segala ketidaknyaman. Coba bayangkan, aku hidup dengan penopang obat-obatan untuk kesehatan jantung, menjaga normal ambang batas gula dalam darah dan juga menjaga lututku bisa menopang tubuhku untuk beraktifitas baik untuk bermu’amalah maupun beribadah.

Jadi...? Katamu dengan berlinang air mata untuk mengakhiri rasa penasaranmu kepadaku.

Aku telah belajar banyak dari ragaku, kita ini hanya dititipi oleh Alloh ta’ala, kita hanya dipinjami oleh-Nya. Namanya dititipi atau dipinjami, ya saat sang pemilik berkehendak melakukan apapun, ya terserah saja. Apa kita sebagai peminjam atau sebagai yang dititipi, akan menolak jika sang pemilik menginginkannya? Laa Khaula wala quwwata illa billah. Terima kasih, teman untuk waktumu untukku.


RAGA INI BUKAN MILIKKU

  Bismillahirrahmanirrahim. Ucapnya lirih sembari mendekatiku. Dokter Obsgyn yang penuh keibuan itu mulai melakukan treatment kepadaku deng...